Sedikit Berbeda Pendapat Dengan Umar Tentang Fahri Hamzah di Dunia KAMMI

saya putuskan untuk menjawab tulisan Ahmad Rizki Mardhatilah Umar yang dengan lugas dan cerdas menulis sebuah essay berjudul “Melupakan Fahri Hamzah dari Pikiran KAMMI” pada Sabtu, 18 Oktober 2014 yang dirilis oleh situs ber Bahasa Indonesia http://www.kammikultural.org/.

Umar mengatakan bahwa Fahri Hamzah hanyalah mewarisi patronase KAMMI pada PKS seperti yang ditulisnya pada paragraf delapan , Fahri Hamzah memang sudah tidak di KAMMI lagi, tapi ada satu warisan yang ia tinggalkan: patronase KAMMI terhadap PKS. Bergabungnya Fahri, dan aktivis-aktivis generasinya, dengan PKS, menandai satu episode baru terhadap KAMMI: politik patronase yang terbangun secara tidak sadar antara KAMMI dengan partai berlambang padi hitam ini. “ , Umar juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan Fahri Hamzah dan eksponen 98 merupakan suatu bentuk kegagalan tersebab setelah reformasipun , Indonesia masih juga disetir oleh anasir – anasir orba yang menurutnya masih memiliki kekuatan untuk mengendalikan Indonesia.

Sebagai akhir dari tulisan, ia mengajak kader KAMMI untuk menggunakan akal yang dianugerahkan Tuhan untuk mengelola KAMMI demi masa depannya, alias berpikir dengan cara sendiri bukan lagi dengan cara Fahri Hamzah, meskipun  cara berfikir tersebut  tidak dijelaskan oleh Umar . Dan yang paling mengejutkan adalah pada akhir tulisannya, Umar mengajak para kader KAMMI untuk melupakan Fahri Hamzah dan generasinya.

Pernyataan Umar pada tulisannya tersebut jelas menyampaikan pesan dan ajakan yang terang benderang, bahwa Patron KAMMI itu bukan hanya kepada Fahri Hamzah dan lingkarannya, tapi mungkin bisa juga pada saudara Mu’tamar Ma’ruf, saudara Amin Sudarsono dengan Pattiro nya (walaupun beliau sudah tidak lagi berada disana), ataupun pada Umar sendiri yang saya ingin memastikan siapa orang yang berada diatasnya.

Anas Urbaningrum dan adik – adik HMInya

Ada seorang alumni KAMMI, saya tidak perlu menyebutkan siapa namanya, pun tidak ada yang tahu dia menjadi kader partai mana sekarang. Juga tidak ada yang tahu dia pro KMP atau KIH. Dia memiliki sebuah media massa yang didalamnya terdapat jurnalis yang berideologi paling kiri , moderat sampai yang celananya tiga per empat .

Suatu saat dia berkata kepada saya dan beberapa kawan yang lain “jika misalnya kamu melihat saya berada pada suatu klub, dikelilingi para wanita, jangan kau beritakan walaupun itu fakta, malah yang kalian harus lakukan adalah membuat perlindungan dan pembelaan dari serangan berita – berita yang bermunculan, sebab kita adalah satu keluarga, ini yang harus dimengerti” .

Begitu pula yang terjadi pada Anas Urbaningrum, betapa adik – adik HMInya bergerak melakukan advokasi, tulisan – tulisan, forum, aksi turun ke jalan, dan sebagainya demi memberi pesan kepada masyarakat dan para pengambil keputusan bahwa Anas tak bersalah dan dia dizhalimi pada kasus yang menimpanya, bahkan sesudah terjadi putusan.  Dan inilah yang mungkin dinihilkan dan dilupakan oleh Umar. Saya tidak lagi bicara tentang “cara berfikir” Fahri Hamzah yang tidak dijelaskan oleh Umar, tapi saya ingin membelokan kepada item yang terlupakan, yaitu rasa solidaritas kekeluargaan yang terbentuk serta penghormatan kepada founding fathers beserta kamerad – kamerad senior yang dikenalnya.

Rasa solidaritas kekeluargaan serta penghormatan kepada Founding Fathers tidak terbentuk dari besarnya nama orang itu di media maupun dalam sejarah. Tapi ada suatu proses evolusi yang memang diturunkan dari generasi ke generasi dengan kata kunci pertemuan langsung, dialog dan transformasi pemikiran yang berlangsung dengan alami. Fahri Hamzah melakukan itu.

Adalah sangat wajar Umar melawan dan apriori kepada penghargaan kader kepada para kamerad-kamerad senior yang selama ini muncul dipermukaan (Fahri Hamzah an sich). Sederhana, Umar memiliki patronase sendiri, orang yang dikenalnya, lalu mungkin dia memperkenalkan siapa orang tersebut di akhir paragraph tulisannya. Namun sayang sekali, patronnya ini kurang memperkenalkan diri kepada kader sehingga mungkin generasinya hanya ada dilingkup terbatas, termasuk Umar.

Secara sadar atau tidak sadar, cara berfikir Umar yang mungkin dikatakannya adalah cara berfikirnya sendiri memiliki jejak berfikir senior dimana dia menyambungkan benang. Di satu titik tertentu, dia akan juga bersikap membela , melindungi jika patronasenya ini terusik. Seperti apa yang dilakukan kader HMI terhadap Anas Urbaningrum.

Apakah Umar mengenal secara pribadi orang – orang yang coba dinihilkannya ini? Pernahkah dia bertemu? Atau pernahkah berdialog dengan sangat intim dan mendalam mengenai segala sesuatunya atau hanya sekedar bicara tentang kehidupan pribadi. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Umar pernah melakukan riset, sebenarnya siapa saja patron di dalam tubuh KAMMI selain Fahri Hamzah. Apakah dia benar – benar hanya menemukan Fahri Hamzah dan Andi Rahmat saja?

Lupakan Patronase Biologis, ini yang paling penting

Adalah seorang Sri Mulyani, memiliki latar belakang keluarga batih beraliran politik nasionalis, tapi siapa menyangka orang tuanya tidak bisa mengkader sri berpikiran politik yang sama sehingga dia menjadi seorang sosialis kanan yang berasal dari PSI hasil dari pendidikan kampusnya. Kini dia sangat terbuka dengan gedung putih bahkan menjadi agennya, bersama rekan sejawat, Boediono.

Namun, sepayah apapun dari Ibu Sri Mulyani, dia tetap menyajikan hikmah bahwa yang dikedepankan dalam memilih sebuah patronase bukanlah orang maupun entitas, tapi apa yang dibawa olehnya. Sri Mulyani memiliki kedekatan dengan PNI seimbang dengan kelas kampusnya. Tapi dia memilih dengan sadar , mana ideologi yang akan dijadikan landasannya dalam ber Indonesia. Bukan karena orang tuanya maupun entitas kampusnya. Walaupun sayang ideologinya selama ini hanya menguntungkan oligarki partai bahkan asing.

Kita tidak menyambungkan benang pada Fahri Hamzah, Muhammad Danial Nafis, Rahman Toha, Rijalul Imam, Mu’tamar Ma’ruf, Amin Sudarsono, atau pada entitas PKS, PSI, SI, ataupun lainnya. Tapi sambungkanlah cara berfikir kita dengan landasan – landasan berfikir orang – orang tersebut, landasan ideologinya, pasti kita akan menemukan yang sesuai. Disamping tinggal bagaimana para kamerad tersebut memperkuat internalisasi ideologi tersebut pada adik – adiknya. Dan secara sadar kitapun juga harus terus mengasah diri.

Saya sangat yakin, dalam tubuh KAMMI, tak hanya satu pandangan cara berfikir saja, selain Pan Islamisme yang sangat dominan, jangan dipungkiri bahwa para alumninya ada yang berpindah ke sosialis kiri, nasionalis kerakyatan, komunis, wahabi, sampai ada juga yang terindikasi neolib.

Pilihan ini penting, walaupun mungkin suatu saat akan ada perubahan, seperti tokoh ayah Allan Karlsson dalam novel The 100 Year Old Man Who Climbed Out of The Window And Disappeared , dia dari mulai kiri, lalu memuji – muji Tsar Nicholas II dan mengakhiri hidupnya dengan sengketa tanah terhadap Vladimir Ilyich Lenin. Itu bisa saja terjadi.

Maka kepada kader KAMMI, selamat memilih dengan bebas merdeka. Jika ada yang menyerangmu karena pilihanmu itu. Selesaikan saja dengan minum kopi bersama sambil menatap masa depan. Karena kita semua adalah keluarga.

Malam Telah Jatuh

Tsurayya Zahra

21 Oktober 2014

Mengembalikan Keberpihakan Gerakan

Perempuan itu berdiri sambil (hampir) menangis, satu – satunya kemampuan yang tidak dimiliki 3 lawan bicaranya yang lain tersebab mereka adalah laki – laki. Matanya berlinang – linang, hidungnya semakin merah, diikuti kelopak matanya yang seperti memar. Habis sudah argumentasi tanpa landasan teori yang sedari tadi diteriakannya, ya.. diteriakan, bukan saja bicara lembut  1 oktaf sebagaimana perempuan. Sebab dia sepertinya sudah tidak bisa menahan emosi kemarahan bercampur sedihnya. Hanya karena, teman bicaranya menolak permintaannya untuk sama – sama menggulirkan suatu isu.

Isu apa itu? Kenapa ditolak? . 2 pertanyaan ini mungkin tidak harus terjawab. Tidak semua pertanyaan bisa dijawab pada saat ini juga, mungkin nanti jika kamu sudah duduk di bangku – bangku dewan, atau mungkin ketika kamu berbelanja di pasar yang besok akan segera digusur pemda setempat, atau ketika kamu sedang menggendong cucu ke 10 dari anak ke dua. Ini persoalan waktu.

Kembali pada perempuan tadi, dia kini meletakan tasnya di atas aspal jalanan, lalu duduk di atas aspal itu juga. Meminta penjelasan, walaupun sudah jelas terang benderang. Mungkin sebetulnya bukan minta penjelasan, tapi hendak melanjutkan protes. Dia hendak berkata, “aku memang duduk, tapi aku tidak menyerah”. Satu dari laki – laki teman bicaranya memutar slayer, slayer warna hitam yang memiliki banyak fungsi, sebagai penutup hidung dan mulut ketika naik motor, penutup mata ketika mengikuti jurit malam, dan sekarang berfungsi sebagai penutup muka dadakan karena terkaget – kaget melihat perempuan di depannya begitu ngotot. Sambil berdehem dia berkata “kita sudah berbeda pemikiran, nona, pertengkaran malam ini tak akan berkesudahan, lebih baik kita pulang”.

Jadi, mereka benar – benar pulang, walaupun sepanjang perjalanan si perempuan terus menerus memberondong mereka dengan protes. Melalui gadget keluaran cinanya. Sampai dia benar – benar tertidur. Meskipun dalam mimpinya , scene pertengkaran itu masih berlangsung. Dan dia masih memaki – maki.

Perempuan itu mengenal seseorang, orang tersebut selama ini membantu kehidupannya, mengajaknya berbicara tentang apapun, dari bisnis sampai anak – anak. Orang itu disebutnya sebagai kakak.  Tentu tak hanya bicara, tapi mengerjakan pekerjaan bersama – sama, layaknya keluarga. Kita bisa menilai bagaimana hubungan antara mereka berdua, dan bagaimana tingkat kepercayaannya kepada orang tersebut.

Siapa mengira kalau orang tersebut adalah senior dari gerakan perempuan itu beserta teman – teman bicaranya tadi malam? . Selama ini dia menghilang dan sengaja menjauhkan diri disambung dengan membuat entitas baru, yang kini entitas tersebut memiliki pasukan yang saling hidup menghidupi. Kita bisa menebak, perempuan itu juga berada dalam entitas baru tersebut, walaupun sampai detik ini dia masih bersama dengan teman – temannya.

“Kakakmu itu siapa? Bagaimana nasabnya dengan induk diatas kita?konon dia keluar dari kelompok. Kita tetap harus punya cantolan “resmi” pada setiap gerakan kita, dan tolong nona, tidak ada sejarahnya induk “resmi” kita berada berhadap – hadapan dengan pemerintahan” ujar salah satu laki – laki yang paling gemuk tadi malam. Dan semuanya begitu terang bagi si perempuan, dan membuat si perempuan begitu muntab.

“bisakah kita menerima sebuah diaspora? Memang siapa satu – satunya orang yang membela pak tua beristri 3 yang tertangkap KPK itu ketika media – media yang lain menyerang? Dia!.  Jadi, kalau ada senior “resmi” meminta bantuan tapi isunya hanya bermanfaat bagi segelintir elit kelompok langsung bisa dieksekusi seperti apa yang kamu pimpin di Bundaran HI itu? Sedangkan isu yang jelas benar – benar untuk kepentingan rakyat kecil tapi support datang darinya, kalian menimbang – nimbang? Hanya karena “dia bukan dari kelompok” kita? Dengan alasan peta konflik, cantolan keamanan dan hal – hal omong kosong lainnya? Bagiku itu hanya kata lain dari ketiadaan nyali dan hilangnya nilai gerakan!” mata perempuan itu sedikit mengeluarkan cahaya api.

“hidup kita dengan melawan. Kita tidak bisa berkolaborasi dengan penguasa dengan cara menginjak rakyat. lalu kalian memihak siapa?” dan sebuah taksi biru berhenti untuk menerima order perjalanan ke selatan Jakarta.

Senja di Timur Jakarta

17 Oktober 2014