Perempuan itu berdiri sambil (hampir) menangis, satu – satunya kemampuan yang tidak dimiliki 3 lawan bicaranya yang lain tersebab mereka adalah laki – laki. Matanya berlinang – linang, hidungnya semakin merah, diikuti kelopak matanya yang seperti memar. Habis sudah argumentasi tanpa landasan teori yang sedari tadi diteriakannya, ya.. diteriakan, bukan saja bicara lembut  1 oktaf sebagaimana perempuan. Sebab dia sepertinya sudah tidak bisa menahan emosi kemarahan bercampur sedihnya. Hanya karena, teman bicaranya menolak permintaannya untuk sama – sama menggulirkan suatu isu.

Isu apa itu? Kenapa ditolak? . 2 pertanyaan ini mungkin tidak harus terjawab. Tidak semua pertanyaan bisa dijawab pada saat ini juga, mungkin nanti jika kamu sudah duduk di bangku – bangku dewan, atau mungkin ketika kamu berbelanja di pasar yang besok akan segera digusur pemda setempat, atau ketika kamu sedang menggendong cucu ke 10 dari anak ke dua. Ini persoalan waktu.

Kembali pada perempuan tadi, dia kini meletakan tasnya di atas aspal jalanan, lalu duduk di atas aspal itu juga. Meminta penjelasan, walaupun sudah jelas terang benderang. Mungkin sebetulnya bukan minta penjelasan, tapi hendak melanjutkan protes. Dia hendak berkata, “aku memang duduk, tapi aku tidak menyerah”. Satu dari laki – laki teman bicaranya memutar slayer, slayer warna hitam yang memiliki banyak fungsi, sebagai penutup hidung dan mulut ketika naik motor, penutup mata ketika mengikuti jurit malam, dan sekarang berfungsi sebagai penutup muka dadakan karena terkaget – kaget melihat perempuan di depannya begitu ngotot. Sambil berdehem dia berkata “kita sudah berbeda pemikiran, nona, pertengkaran malam ini tak akan berkesudahan, lebih baik kita pulang”.

Jadi, mereka benar – benar pulang, walaupun sepanjang perjalanan si perempuan terus menerus memberondong mereka dengan protes. Melalui gadget keluaran cinanya. Sampai dia benar – benar tertidur. Meskipun dalam mimpinya , scene pertengkaran itu masih berlangsung. Dan dia masih memaki – maki.

Perempuan itu mengenal seseorang, orang tersebut selama ini membantu kehidupannya, mengajaknya berbicara tentang apapun, dari bisnis sampai anak – anak. Orang itu disebutnya sebagai kakak.  Tentu tak hanya bicara, tapi mengerjakan pekerjaan bersama – sama, layaknya keluarga. Kita bisa menilai bagaimana hubungan antara mereka berdua, dan bagaimana tingkat kepercayaannya kepada orang tersebut.

Siapa mengira kalau orang tersebut adalah senior dari gerakan perempuan itu beserta teman – teman bicaranya tadi malam? . Selama ini dia menghilang dan sengaja menjauhkan diri disambung dengan membuat entitas baru, yang kini entitas tersebut memiliki pasukan yang saling hidup menghidupi. Kita bisa menebak, perempuan itu juga berada dalam entitas baru tersebut, walaupun sampai detik ini dia masih bersama dengan teman – temannya.

“Kakakmu itu siapa? Bagaimana nasabnya dengan induk diatas kita?konon dia keluar dari kelompok. Kita tetap harus punya cantolan “resmi” pada setiap gerakan kita, dan tolong nona, tidak ada sejarahnya induk “resmi” kita berada berhadap – hadapan dengan pemerintahan” ujar salah satu laki – laki yang paling gemuk tadi malam. Dan semuanya begitu terang bagi si perempuan, dan membuat si perempuan begitu muntab.

“bisakah kita menerima sebuah diaspora? Memang siapa satu – satunya orang yang membela pak tua beristri 3 yang tertangkap KPK itu ketika media – media yang lain menyerang? Dia!.  Jadi, kalau ada senior “resmi” meminta bantuan tapi isunya hanya bermanfaat bagi segelintir elit kelompok langsung bisa dieksekusi seperti apa yang kamu pimpin di Bundaran HI itu? Sedangkan isu yang jelas benar – benar untuk kepentingan rakyat kecil tapi support datang darinya, kalian menimbang – nimbang? Hanya karena “dia bukan dari kelompok” kita? Dengan alasan peta konflik, cantolan keamanan dan hal – hal omong kosong lainnya? Bagiku itu hanya kata lain dari ketiadaan nyali dan hilangnya nilai gerakan!” mata perempuan itu sedikit mengeluarkan cahaya api.

“hidup kita dengan melawan. Kita tidak bisa berkolaborasi dengan penguasa dengan cara menginjak rakyat. lalu kalian memihak siapa?” dan sebuah taksi biru berhenti untuk menerima order perjalanan ke selatan Jakarta.

Senja di Timur Jakarta

17 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s