Nemu tempat sampah ini di Giant seharga 109.990 , padahal baru kemarin aku beli di pasar tebet barat seharga 65.000 😆. Emang top banget deh pasar tradisional. #AyoKembaliBelanjaKePasarTradisional

View on Path

Polwan Boleh Berjilbab , Genesia Siap Advokasi Jika Ada Pelanggaran

Genesia serta aktivis lainnya sangat bersyukur atas keputusan diperbolehkannya polwan berjilbab. Kami berterima kasih pada seluruh elemen bangsa, ormas, gerakan, legislator Komisi III DPR RI yang sedari awal memperjuangkan kebijakan tersebut,” ujar Sekar ketua bidang kebijakan publik Genesia pada SWARANews, Selasa (07/04).

Menurut Sekar, Genesia akan terus mengawal keputusan tersebut dan siap mengadvokasi jika ada pelanggaran dalam pelaksanaannya.

“Kami akan terus mengawal anggaran serta pelaksanaan keputusan tersebut. Jika ada pelanggaran, Genesia akan menjadi garda terdepan untuk mengadvokasi,” tegasnya.

Sekar mengatakan Genesia juga mengapresiasi tinggi para polwan muslimah yang sabar menunggu hingga keputusan tersebut dikeluarkan

Sumber Berita:
http://www.swaranews.com/berita-polwan-boleh-berjilbab-genesia-siap-advokasi-jika-ada-pelanggaran.html#ixzz3XCkNGeu8

Follow :
Twitter : @genesiaID

***

Kumpulan Berita Bekasi Peduli Autisme

#TalentaCenter
#Genesia
#RumahAutis
#Forkasi

#BekasiPeduliAutisme
#FunWalkPeduliAutisme5April

image

Video News :

http://video.tempo.co/read/2015/03/31/2869/Bekasi-Deklarasikan-Peduli-Autisme

Link News :

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/30/nm0p69-bangun-kesadaran-masyarakat-dengan-deklarasi-peduli-autisme

http://berita.maiwanews.com/deklarasi-bekasi-peduli-autisme-untuk-menggugah-kepedulian-40797.html

http://sindikasi.co/news/bangun-kesadaran-masyarakat-dengan-deklarasi-peduli-autisme

http://www.edisinews.com/berita-deklarasi-peduli-autisme-digelar-di-bekasi.html

http://palingaktual.com/1578803/bangun-kesadaran-masyarakat-dengan-deklarasi-peduli-autisme/

http://www.bekasibusiness.com/2015/03/30/deklarasi-bekasi-peduli-autisme/

http://www.bekasikota.go.id/read/14542/wakil-walikota-apresiasi-elemen-masyarakat-gelar-seminar-dan-deklarasi-bekasi-peduli-autis

http://www.bekasimedia.com/sambut-hari-autisme-sedunia-bekasi-peduli-autisme-dideklarasikan-di-balai-patriot/

Sampai Jumpa dalam Bekasi Fun Walk Peduli Autisme 5 April 2015 

Follow Twitter :
@Talentacenter
@GenesiaID

***

Bekasi Peduli Autisme

✨Seminar Pendidikan✨
“Bekasi Peduli Autisme” 

Dalam rangka Hari Peduli Anak Autism sedunia 👱👦👧

SAVE THE DATE:
📝Minggu, 29 Maret 2015.
🏤Di Gedung Patriot – Walikota Bekasi.
⏰Pukul 08.00 – 12.00

Pembicara :
1. Dr. Suzy Yusna Dewi. dr. SpKJ(K) (Psikiater Anak& Remaja) 2. Drs. H. Agus Enap. M.Pd ( Dinas Pendidikan Kota Bekasi)
3. Dr. Amarta. MM ( Dinas Sosial Kota Bekasi)

Dimeriahkan oleh performance anak – anak berkebutuhan khusus. 
👭👬👭👬👭👬

PIC :
Bu Ida 0878 0421 5490
Bu Ulfa 0856 9917 934
Bu Eka 0857 1432 3200

Diselenggarakan oleh :
Rumah Autis (RA)
Talenta Center
Gerakan Perempuan Indonesia (Genesia)
Forkasi 

🌻🌼🍁🍃🍂🌸🍀

Sedikit Berbeda Pendapat Dengan Umar Tentang Fahri Hamzah di Dunia KAMMI

saya putuskan untuk menjawab tulisan Ahmad Rizki Mardhatilah Umar yang dengan lugas dan cerdas menulis sebuah essay berjudul “Melupakan Fahri Hamzah dari Pikiran KAMMI” pada Sabtu, 18 Oktober 2014 yang dirilis oleh situs ber Bahasa Indonesia http://www.kammikultural.org/.

Umar mengatakan bahwa Fahri Hamzah hanyalah mewarisi patronase KAMMI pada PKS seperti yang ditulisnya pada paragraf delapan , Fahri Hamzah memang sudah tidak di KAMMI lagi, tapi ada satu warisan yang ia tinggalkan: patronase KAMMI terhadap PKS. Bergabungnya Fahri, dan aktivis-aktivis generasinya, dengan PKS, menandai satu episode baru terhadap KAMMI: politik patronase yang terbangun secara tidak sadar antara KAMMI dengan partai berlambang padi hitam ini. “ , Umar juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan Fahri Hamzah dan eksponen 98 merupakan suatu bentuk kegagalan tersebab setelah reformasipun , Indonesia masih juga disetir oleh anasir – anasir orba yang menurutnya masih memiliki kekuatan untuk mengendalikan Indonesia.

Sebagai akhir dari tulisan, ia mengajak kader KAMMI untuk menggunakan akal yang dianugerahkan Tuhan untuk mengelola KAMMI demi masa depannya, alias berpikir dengan cara sendiri bukan lagi dengan cara Fahri Hamzah, meskipun  cara berfikir tersebut  tidak dijelaskan oleh Umar . Dan yang paling mengejutkan adalah pada akhir tulisannya, Umar mengajak para kader KAMMI untuk melupakan Fahri Hamzah dan generasinya.

Pernyataan Umar pada tulisannya tersebut jelas menyampaikan pesan dan ajakan yang terang benderang, bahwa Patron KAMMI itu bukan hanya kepada Fahri Hamzah dan lingkarannya, tapi mungkin bisa juga pada saudara Mu’tamar Ma’ruf, saudara Amin Sudarsono dengan Pattiro nya (walaupun beliau sudah tidak lagi berada disana), ataupun pada Umar sendiri yang saya ingin memastikan siapa orang yang berada diatasnya.

Anas Urbaningrum dan adik – adik HMInya

Ada seorang alumni KAMMI, saya tidak perlu menyebutkan siapa namanya, pun tidak ada yang tahu dia menjadi kader partai mana sekarang. Juga tidak ada yang tahu dia pro KMP atau KIH. Dia memiliki sebuah media massa yang didalamnya terdapat jurnalis yang berideologi paling kiri , moderat sampai yang celananya tiga per empat .

Suatu saat dia berkata kepada saya dan beberapa kawan yang lain “jika misalnya kamu melihat saya berada pada suatu klub, dikelilingi para wanita, jangan kau beritakan walaupun itu fakta, malah yang kalian harus lakukan adalah membuat perlindungan dan pembelaan dari serangan berita – berita yang bermunculan, sebab kita adalah satu keluarga, ini yang harus dimengerti” .

Begitu pula yang terjadi pada Anas Urbaningrum, betapa adik – adik HMInya bergerak melakukan advokasi, tulisan – tulisan, forum, aksi turun ke jalan, dan sebagainya demi memberi pesan kepada masyarakat dan para pengambil keputusan bahwa Anas tak bersalah dan dia dizhalimi pada kasus yang menimpanya, bahkan sesudah terjadi putusan.  Dan inilah yang mungkin dinihilkan dan dilupakan oleh Umar. Saya tidak lagi bicara tentang “cara berfikir” Fahri Hamzah yang tidak dijelaskan oleh Umar, tapi saya ingin membelokan kepada item yang terlupakan, yaitu rasa solidaritas kekeluargaan yang terbentuk serta penghormatan kepada founding fathers beserta kamerad – kamerad senior yang dikenalnya.

Rasa solidaritas kekeluargaan serta penghormatan kepada Founding Fathers tidak terbentuk dari besarnya nama orang itu di media maupun dalam sejarah. Tapi ada suatu proses evolusi yang memang diturunkan dari generasi ke generasi dengan kata kunci pertemuan langsung, dialog dan transformasi pemikiran yang berlangsung dengan alami. Fahri Hamzah melakukan itu.

Adalah sangat wajar Umar melawan dan apriori kepada penghargaan kader kepada para kamerad-kamerad senior yang selama ini muncul dipermukaan (Fahri Hamzah an sich). Sederhana, Umar memiliki patronase sendiri, orang yang dikenalnya, lalu mungkin dia memperkenalkan siapa orang tersebut di akhir paragraph tulisannya. Namun sayang sekali, patronnya ini kurang memperkenalkan diri kepada kader sehingga mungkin generasinya hanya ada dilingkup terbatas, termasuk Umar.

Secara sadar atau tidak sadar, cara berfikir Umar yang mungkin dikatakannya adalah cara berfikirnya sendiri memiliki jejak berfikir senior dimana dia menyambungkan benang. Di satu titik tertentu, dia akan juga bersikap membela , melindungi jika patronasenya ini terusik. Seperti apa yang dilakukan kader HMI terhadap Anas Urbaningrum.

Apakah Umar mengenal secara pribadi orang – orang yang coba dinihilkannya ini? Pernahkah dia bertemu? Atau pernahkah berdialog dengan sangat intim dan mendalam mengenai segala sesuatunya atau hanya sekedar bicara tentang kehidupan pribadi. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Umar pernah melakukan riset, sebenarnya siapa saja patron di dalam tubuh KAMMI selain Fahri Hamzah. Apakah dia benar – benar hanya menemukan Fahri Hamzah dan Andi Rahmat saja?

Lupakan Patronase Biologis, ini yang paling penting

Adalah seorang Sri Mulyani, memiliki latar belakang keluarga batih beraliran politik nasionalis, tapi siapa menyangka orang tuanya tidak bisa mengkader sri berpikiran politik yang sama sehingga dia menjadi seorang sosialis kanan yang berasal dari PSI hasil dari pendidikan kampusnya. Kini dia sangat terbuka dengan gedung putih bahkan menjadi agennya, bersama rekan sejawat, Boediono.

Namun, sepayah apapun dari Ibu Sri Mulyani, dia tetap menyajikan hikmah bahwa yang dikedepankan dalam memilih sebuah patronase bukanlah orang maupun entitas, tapi apa yang dibawa olehnya. Sri Mulyani memiliki kedekatan dengan PNI seimbang dengan kelas kampusnya. Tapi dia memilih dengan sadar , mana ideologi yang akan dijadikan landasannya dalam ber Indonesia. Bukan karena orang tuanya maupun entitas kampusnya. Walaupun sayang ideologinya selama ini hanya menguntungkan oligarki partai bahkan asing.

Kita tidak menyambungkan benang pada Fahri Hamzah, Muhammad Danial Nafis, Rahman Toha, Rijalul Imam, Mu’tamar Ma’ruf, Amin Sudarsono, atau pada entitas PKS, PSI, SI, ataupun lainnya. Tapi sambungkanlah cara berfikir kita dengan landasan – landasan berfikir orang – orang tersebut, landasan ideologinya, pasti kita akan menemukan yang sesuai. Disamping tinggal bagaimana para kamerad tersebut memperkuat internalisasi ideologi tersebut pada adik – adiknya. Dan secara sadar kitapun juga harus terus mengasah diri.

Saya sangat yakin, dalam tubuh KAMMI, tak hanya satu pandangan cara berfikir saja, selain Pan Islamisme yang sangat dominan, jangan dipungkiri bahwa para alumninya ada yang berpindah ke sosialis kiri, nasionalis kerakyatan, komunis, wahabi, sampai ada juga yang terindikasi neolib.

Pilihan ini penting, walaupun mungkin suatu saat akan ada perubahan, seperti tokoh ayah Allan Karlsson dalam novel The 100 Year Old Man Who Climbed Out of The Window And Disappeared , dia dari mulai kiri, lalu memuji – muji Tsar Nicholas II dan mengakhiri hidupnya dengan sengketa tanah terhadap Vladimir Ilyich Lenin. Itu bisa saja terjadi.

Maka kepada kader KAMMI, selamat memilih dengan bebas merdeka. Jika ada yang menyerangmu karena pilihanmu itu. Selesaikan saja dengan minum kopi bersama sambil menatap masa depan. Karena kita semua adalah keluarga.

Malam Telah Jatuh

Tsurayya Zahra

21 Oktober 2014

Mengembalikan Keberpihakan Gerakan

Perempuan itu berdiri sambil (hampir) menangis, satu – satunya kemampuan yang tidak dimiliki 3 lawan bicaranya yang lain tersebab mereka adalah laki – laki. Matanya berlinang – linang, hidungnya semakin merah, diikuti kelopak matanya yang seperti memar. Habis sudah argumentasi tanpa landasan teori yang sedari tadi diteriakannya, ya.. diteriakan, bukan saja bicara lembut  1 oktaf sebagaimana perempuan. Sebab dia sepertinya sudah tidak bisa menahan emosi kemarahan bercampur sedihnya. Hanya karena, teman bicaranya menolak permintaannya untuk sama – sama menggulirkan suatu isu.

Isu apa itu? Kenapa ditolak? . 2 pertanyaan ini mungkin tidak harus terjawab. Tidak semua pertanyaan bisa dijawab pada saat ini juga, mungkin nanti jika kamu sudah duduk di bangku – bangku dewan, atau mungkin ketika kamu berbelanja di pasar yang besok akan segera digusur pemda setempat, atau ketika kamu sedang menggendong cucu ke 10 dari anak ke dua. Ini persoalan waktu.

Kembali pada perempuan tadi, dia kini meletakan tasnya di atas aspal jalanan, lalu duduk di atas aspal itu juga. Meminta penjelasan, walaupun sudah jelas terang benderang. Mungkin sebetulnya bukan minta penjelasan, tapi hendak melanjutkan protes. Dia hendak berkata, “aku memang duduk, tapi aku tidak menyerah”. Satu dari laki – laki teman bicaranya memutar slayer, slayer warna hitam yang memiliki banyak fungsi, sebagai penutup hidung dan mulut ketika naik motor, penutup mata ketika mengikuti jurit malam, dan sekarang berfungsi sebagai penutup muka dadakan karena terkaget – kaget melihat perempuan di depannya begitu ngotot. Sambil berdehem dia berkata “kita sudah berbeda pemikiran, nona, pertengkaran malam ini tak akan berkesudahan, lebih baik kita pulang”.

Jadi, mereka benar – benar pulang, walaupun sepanjang perjalanan si perempuan terus menerus memberondong mereka dengan protes. Melalui gadget keluaran cinanya. Sampai dia benar – benar tertidur. Meskipun dalam mimpinya , scene pertengkaran itu masih berlangsung. Dan dia masih memaki – maki.

Perempuan itu mengenal seseorang, orang tersebut selama ini membantu kehidupannya, mengajaknya berbicara tentang apapun, dari bisnis sampai anak – anak. Orang itu disebutnya sebagai kakak.  Tentu tak hanya bicara, tapi mengerjakan pekerjaan bersama – sama, layaknya keluarga. Kita bisa menilai bagaimana hubungan antara mereka berdua, dan bagaimana tingkat kepercayaannya kepada orang tersebut.

Siapa mengira kalau orang tersebut adalah senior dari gerakan perempuan itu beserta teman – teman bicaranya tadi malam? . Selama ini dia menghilang dan sengaja menjauhkan diri disambung dengan membuat entitas baru, yang kini entitas tersebut memiliki pasukan yang saling hidup menghidupi. Kita bisa menebak, perempuan itu juga berada dalam entitas baru tersebut, walaupun sampai detik ini dia masih bersama dengan teman – temannya.

“Kakakmu itu siapa? Bagaimana nasabnya dengan induk diatas kita?konon dia keluar dari kelompok. Kita tetap harus punya cantolan “resmi” pada setiap gerakan kita, dan tolong nona, tidak ada sejarahnya induk “resmi” kita berada berhadap – hadapan dengan pemerintahan” ujar salah satu laki – laki yang paling gemuk tadi malam. Dan semuanya begitu terang bagi si perempuan, dan membuat si perempuan begitu muntab.

“bisakah kita menerima sebuah diaspora? Memang siapa satu – satunya orang yang membela pak tua beristri 3 yang tertangkap KPK itu ketika media – media yang lain menyerang? Dia!.  Jadi, kalau ada senior “resmi” meminta bantuan tapi isunya hanya bermanfaat bagi segelintir elit kelompok langsung bisa dieksekusi seperti apa yang kamu pimpin di Bundaran HI itu? Sedangkan isu yang jelas benar – benar untuk kepentingan rakyat kecil tapi support datang darinya, kalian menimbang – nimbang? Hanya karena “dia bukan dari kelompok” kita? Dengan alasan peta konflik, cantolan keamanan dan hal – hal omong kosong lainnya? Bagiku itu hanya kata lain dari ketiadaan nyali dan hilangnya nilai gerakan!” mata perempuan itu sedikit mengeluarkan cahaya api.

“hidup kita dengan melawan. Kita tidak bisa berkolaborasi dengan penguasa dengan cara menginjak rakyat. lalu kalian memihak siapa?” dan sebuah taksi biru berhenti untuk menerima order perjalanan ke selatan Jakarta.

Senja di Timur Jakarta

17 Oktober 2014

Maka Aku Berusaha Memandang Adil Tentang Poligami

 Sudah cukup. mari kita berdamai. berdamai dengan syariat Tuhan yang nyatanya memang bisa menjadi pintu jawaban dari keresahan kehidupan kita. Walaupun, aku tegaskan, hanya sekali ini aku umumkan tentang satu hal yang telah bertahun – tahun aku tak adil terhadapnya. hanya hari ini, esok bahkan sampai ajal menjemput, akan kuhindari tentang perdebatan ini, tak akan lagi kulayani kau yang mencoba – coba memancing taring dan tandukku bermunculan, sebab tak hanya satu dua tanduk , tapi sekujur badanku akan dipenuhi tanduk jika kau sengaja memancingku dengan persoalan ini. jangan salahkan aku jika tandukku ini akan menusukmu sampai mati. 

 
Bermula pada kamu yang menembakku dengan perkataan “Elo ga fair za, lo udah punya suami dan 3 anak. mereka belum. Elo ga bisa memaksa mereka untuk menjadi kuat. Karena lo ga bisa jadi contoh. Lo udah punya” sambil menyetir kau tanpa ragu berkata seperti itu. 
 
“tapi kan lo juga ga bisa dong, bilang gw lebih bahagia dari mereka hanya karena gw udah punya suami dan anak-anak. lo pikir parameter kebahagiaan cuma dari situ. trus dimana konsep syukur nikmat yang selama ini didoktrinkan kepada kita? masa iya mereka ga bisa bersyukur dengan keadaan sekarang yang mungkin malah lebih – lebih daripada gw yang trus berjibaku menyambung hidup” 
 
“zahra..zahra… tetap, lo punya apa yang mereka belum punya” sambil berkata seperti itu sampailah kami pada sebuah tempat dimana seorang kawan perempuan yang sedang melaksanakan resepsi pernikahan. 
 
Siapa mereka? sebelum menjawab mereka adalah siapa. ada baiknya aku utarakan apa yang menjadi pemikiranku tentang persoalan hidup nan pelik ini. Tentang genderang penolakan secara sadar yang kutabuhkan terhadap poligami. Ya, lagi – lagi tentang poligami. maaf jika kau menjadi bosan.
 
aku menjadi sangat ekstrim tentang persoalan ini. Menyerang dengan membuta. persis para feminis liberal. tanpa mau bertindak bijak apalagi adil. apa sebenarnya yang membuatku kejam seperti itu? menolak kenyataan bahwa poligami adalah halal dan menjadi pintu?. Tentu saja karena budaya patriakal yang menghegemoni masyarakat kita. Dimana perempuan tak jua mendapatkan kebebasan untuk memilih jalan Tuhan yang banyak tersedia, dia harus menurut pada kemauan laki – laki, termasuk soal poligami. Sudah harus menurut, tak diberikan pilihan dengan bebas, ditambah lagi dengan sikap canda dan guyonan tentang poligami. Yang sama sekali tidak lucu bahkan menjadikan kaum perempuan benar – benar menjadi objek yang bagus sekali untuk diinjak. untuk dianiaya. 
 
Maka akupun semakin menjadi – jadi, aku kobarkan api permusuhan terhadap persoalan ini, kukatakan pada para perempuan yang berada di lingkunganku agar mandiri dan memiliki posisi tawar dalam hidup. Harus kuat , harus mampu berdiri diatas kaki sendiri. Tanpa sadar, bahwa aku melupakan sesuatu. Bahwa aku sendiri memiliki suami dan anak – anak, sedang yang aku serukan, belum sama sekali. benar, ini tidak fair. 
 
Bahwa aku terus memupuk diri dan bersiap jika suatu saat aku akan kembali sendiri itu memang benar, tapi suka tidak suka, bahwa suamikulah yang sangat berperan besar dalam pembangunan itu. seorang laki – laki, yang tanpanya dan tanpa se izinNya, aku tak akan bisa seperti ini.
 
Ya, mereka adalah para muslimah sholihat yang terus berusaha menyempurnakan ketaqwaan. Tuhan itu humoris sekali, aku ditempatkan pada posisi dimana mau tidak mau juga harus bertanggung jawab dengan kelangsungan hidup saudari – saudari muslimah yang lain. Tuhan menempatkan aku sebagai median dimana mata harus terbuka bahwa kondisi menjadi begitu timpang. Dimana banyak para muslimah yang sholihat dengan kesiapan menikah dengan begitu mapan dibarengi dengan generasi laki – laki yang notabene adalah anak – anak kandung gerakan dakwah yang begitu pengecut dengan pilihan menikah. ini riil. sangat nyata. 
 
Dan para lelaki sholih bertanggung jawab itu sangat sedikit. dibandingkan mereka, saudari – saudariku. Lantas bagaimana? 
 
Jangan kau kira dengan begini aku dengan mudah menginginkan suamiku menikah dengan para saudari – saudariku itu, walaupun suamiku adalah orang yang sangat cakap dan bertanggung jawab, tetap saja, aku bisa memilih dengan bebas. sesuai dengan kesiapan hati dan keikhlasan jiwa. ini yang pada akhirnya aku doktrinkan pada diri sendiri dan pada tiga anak perempuanku nanti. berpikir dan bertindaklah secara adil dan merdeka. 
 
bertemulah aku pada adik perempuan seorang kawan yang sedang melaksanakan resepsi pernikahan itu. kawanku juga. seorang perempuan yang selalu berdzikir dan memiliki mimpi – mimpi yang besar. tak terkecuali mimpi membangun keluarga sakinah. Dan dengan sangat santai aku berkata “semoga kamu juga disegerakan” . Ada perubahan pada air mukanya, yang membuat nuraniku teriris pedih. Hingga mengatupkan lisanku agar tidak berkata : “yang sabar ya” . Sebab hal itu hanya akan membuatnya semakin resah.