Seri Urban Mama : Panduan Bunda Kerja di Rumah

Mencintai seseorang, lalu menikah, membangun keluarga , mengandung calon bayi kecil, melahirkan, dan Finally… membesarkan anak – anak. Sebuah proses alami yang dianugerahkan oleh Tuhan khusus untuk kita , kaum perempuan. Sstt…maksud saya untuk proses mengandung dan melahirkan saja lho ya. Yang lainnya tentu merupakan tugas kaum laki – laki juga. Namun, menjadi hal yang juga alami ketika tugas membesarkan dan mendidik anak didominasi porsinya oleh kaum perempuan, dimana kaum laki – laki ‘biasanya’ lebih banyak diluar rumah mencari rezeki sehingga waktu untuk anak tidak sebanyak ibu dari anak – anak mereka.

Walaupun zaman telah menggeser kebiasaan dan budaya, ketika kaum perempuan yang juga menjadi seorang bunda bekerja di luar rumah. Mereka memiliki posisi – posisi penting di perusahaan-perusahaan swasta, lembaga – lembaga pemerintahan, pengusaha yang kerap berpergian dalam rangka bisnis, dll.  Kalau seperti itu, beda lagi pembahasannya, akan ada aturan lain yang mengiringi pilihan bunda tersebut.

Kecendrungan bunda terhadap pilihan untuk fokus membesarkan dan mendidik anak dirumah pada era dimana ruang – ruang publik sangat terbuka untuk kaum perempuan tetaplah tinggi. Banyak faktor yang mendukung, misalnya waktu yang terbuang begitu saja dijalanan. pergi ke tempat kerja memerlukan waktu sekitar 3 – 4 jam (berlaku untuk para bunda yang tinggal di kota – kota satelit dan memiliki tempat kerja di ibu kota), pulangnya pun demikian. Sehingga perlu 6-8 jam lebih hanya untuk mobilisasinya saja. Hal itu tentu saja berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki bunda untuk membersamai anak-anak, walaupun banyak tips trik bagaimana  agar waktu yang sedikit itu bisa menjadi waktu yang berkualitas. Lalu, ada juga faktor ekonomi, lho? Bukannya justru dengan bekerja di luar , bunda pun membantu perekonomian keluarga? . betul, namun berapa yang akan dikeluarkan untuk membayar seorang baby sitternanny atau daycare?. Sangatlah mungkin uang gaji yang didapat tidak lebih banyak daripada biaya tersebut.

Sudah? Faktornya hanya itu?. Tentu tidak. Hal yang paling terpenting adalah bagaimana kita menjadi saksi tahap – tahap tumbuh kembang anak di masa – masa emasnya. Hal itulah yang tak bisa dibayar oleh apapun, bisa saja bunda yang bekerja diluar mendapatkan progress report dari para babysitter atau nannyprofesional yang berada di daycare tentang langkah – langkah pertama si kecil, kata pertama yang diucapkan, kala si kecil telah berhasil memasang kancing bajunya sendiri, dll. Namun, menjadi kebahagiaan untuk bunda ketika melihatnya sendiri, sehingga keputusan untuk berhenti bekerja di luar rumah menjadi keputusan yang final.

Berhenti bekerja. Tak lantas membuat bunda berhenti berkarya serta berhenti  menghasilkan uang ketika berada dirumah sambil mengasuh anak. Hayooo…. sedang promosi bisnis networking yang lagi booming itu yah ? , oh.. jangan berfikir positif begitu dong. Kalau yang itu saya tidak bahas disini.

Untuk bunda yang berada di perekonomian kelas menengah kebawah, hal ini menjadi sangat penting. Dimana mereka harus mengerjakan pekerjaan – pekerjaan rumah tangga,mengasuh anak  sekaligus tetap bekarya dan tentu saja, menghasilkan uang. Ada banyak pekerjaan yang juga mewajibkan adanya deadline, sebut saja seorang penulis, kontributor majalah, pembuat trailer film, editor naskah, editor video, dan seluruh pekerjaan ber ‘deadline’ yang dikerjakan dari rumah.

Mereka biasanya tidak memakai jasa asisten rumah tangga apalagi baby sitter, dimana rumah mereka masih menyewa dengan size yang tidak besar sehingga kecil kemungkinan untuk memiliki asisten yang menginap dirumah. Ditambah, asisten yang bisa pulang pergi sangat jarang. Maka, bayangkanlah load kerja mereka, 24 jam + jika bisa saya gambarkan.

Untuk bunda yang berada dalam kondisi penuh perjuangan seperti itu, maka skala prioritas menjadi sangat penting, Tidak perlu berfikir bahwa seluruh pekerjaan harus diselesaikan dalam satu waktu, hal itu hanya akan membuat bunda menjadi stres. Berikut ini ada tips – tips mudah yang bisa saya bagi

1. Lupakan Me Time

Me Time memang penting untuk kaum mama. Waktu dimana bunda bisa melakukan hal – hal favorit untuk diri sendiri agar kembali merasa segar. Namun disarankan untuk tidak terlalu merasa wajib akan menemui waktu –waktu tersebut secara rutin. Tetap prioritaskan tugas dan pekerjaan yang menuntut selesai ketika deadline.

2. Membuat jadwal pembelajaran untuk anak

Untuk anak usia dini, sebetulnya tidak perlu biaya yang mahal untuk mengembangkan dan menstimulasi perkembangannya. Bahan ajar bisa didapatkan dari rumah. Ketika bunda harus meninggalkan anak untuk bermain sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan, maka jangan sampai meninggalkannya tanpa ada aktivitas yang terencana. Misalnya meninggalkannya dengan permainan main peran mikro (misal dengan boneka dan mainan masak – masakan), melukis dengan tangan, dll. Semua itu dilaksanakan dengan jadwal yang terencana.

3. Bekerjasama dengan suami

Pada dasarnya, seluruh pekerjaan domestik juga bisa dilakukan oleh suami. Hanya saja, budaya timur mengharuskan bahwa pekerjaan itu hanyalah dilakukan oleh perempuan. Komunikasikan dengan suami, bahwa bunda butuh dia untuk membantu, ketika memutuskan untuk tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Dengan catatan, tidak mengganggu jadwal kerja dan istirahatnya.

4. Matikan TV dan sediakan tayangan edukatif

Ini adalah bagian dari jadwal pembelajaran yang terencana, namun ada satu hal yang harus diperhatikan yaitu televisi. Ketika bunda sedang buntu ide dengan kegiatan apa yang akan diberikan untuk anak, jangan sampai menyerah pada tv. Sediakan banyak video anak yang bermutu  bisa juga streaming atau download dari situs tayangan yang gratis di internet.

Semoga tulisan ini bisa membantu bunda untuk tantangan kerja dirumah. Semoga apa yang kita kerjakan , mendapat balasan baik dari Allah yang Maha Kuasa.

Hijab Bukan Jilbab

Saya masih bingung kenapa masih ada yang mengatakan bahwa hijab adalah busana, padahal saya sudah membuat kultwit tentang itu. Tapi saya sadar,bahwa berapa orang sih yang mau repot baca kultwit, pun di chripstory terdapat 50 Hit yang membacaya, walaupun saya mempercayai khasiat buzzing, yaitu jika 50 orang membaca pesan, maka diasumsikan 50 orang itu akan menyebarkan ke 10 orang , dimana ke 10 orang tersebut menyebarkannya ke yang lain , , akan ada kelipatan (50 x 10)2. Begitulah kira-kira teori buzzing dalam buku “Political Branding” Abangda Silih Agung Wasesa.  namun yaah, tetap saja istilah yang saya temukan hijab itu adalah jilbab dan busana.

Emang apa sih isi kultwitnya?. Hmm.. sebetulnya sih bukan kuliah asli dari saya. Hehe…, hanya mengutip dan memberitahukan ulang isi buku “Kebebasan Wanita” yang ditulis oleh Prof. Abdul Halim Abu Syuqaah jilid 4, dengan tema Pakaian Muslimah. Pada bab pertamanya, Abu Syuqqah menerangkan kenapa ia menggunakan istilah jilbab , bukanlah hijab yang selama ini populer dikalangan masyarakat.

Hijab itu bukanlah jilbab, apalagi busana. Ia diartikan sebagai penghalang antar satu orang dengan yang lain, sehingga satu sama lain tidak bisa saling melihat. Sedangkan busana muslimah sesuai syariah  (Libas Syari’i) dengan cadar yang menutup wajah sekalipun, tidak menghalangi muslimah tersebut untuk memandang sesuatu.

Hijab pun dikhususkan untuk istri – istri Rasulullah. Yang dimaksud dengan hijab disini adalah tata pergaulan ketika didalam rumah. Ketika mereka keluar rumah, mereka mengenakan libas. Dan itu tidak dinamakan hijab.

Lantas, bagaimanakah libas syari’i tersebut? . Ada lima syarat pakaian muslimah , yaitu menutup seluruh tubuh kecuali wajah, tangan dan kaki, tidak berlebihan dalam menghiasi pakaian, wajah, tangan dan kaki, pakaian tersebut harus dikenal masyarakat islam, berbeda dengan pakaian laki – laki dan wanita non muslim.

Islam tidak mewajibkan seorang muslimah mengikuti satu mode tertentu dan dia menghargai ‘urf atau budaya. Sebagai contoh, sebelum islam datang, perempuan di arab lazim memakai cadar sehingga yang terlihat hanyalah kedua bola mata, lalu islam tidak menolaknya. Islam hanya menyeimbangkan dengan seruan membuka cadar ketika shalat dan menggunakan jilbab dari depan sehingga bisa diulurkan sampai dada. Hal ini menunjukkan bahwa islam menghargai kondisi , iklim , kebebasan bergerak yang berbeda – beda pada sebuah tempat dan zaman. Musibah larangan berjilbab yang menimpa para muslimah di Paris misalnya, memicu perkembangan model libas syari’i yang berbeda dari biasanya. Mode yang dikhususkan untuk para muslimah disana. Dengan topi lebar dan beberapa syal, bisa menjadi alternatif untuk mereka.

Industri mode libas syari’i pada akhir – akhir ini menunjukkan perkembangan yang positif dan kreatif. Desain dan warna – warna yang anggun dan menawan telah menggoda para muslimah untuk tampil lebih baik. Ditambah model – model muslimah yang cantik dengan make up yang sederhana namun indah dipandang mata turut menggairahkan banyak muslimah untuk mengenakan libas syari’i.

Saya pribadi sangat bahagia dengan capaian dakwah yang dikerjakan dengan sangat kreatif tersebut. Namun ada beberapa hal prinsipil yang harus kita pegang sebagai hambaNya. Pastikan pakaian sempurna yang telah kita kenakan semakin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Sangat tidak elok, jika karena kita memakai jilbab dengan tuntutan ber ‘jarum pentul’ banyak apalagi malas mengulang kreatifitas make up, maka kita menjadi kesulitan untuk berwudhu secara sempurna sehingga pada akhirnya kita tidak melakukan kewajiban Shalat. Bukan menghalangi untuk kita tampil menawan dan kreatif, namun saya kira, semua memiliki konsekuensinya bukan?.

Selamat cantik luar dalam wahai ukhti muslimah.